Jangan Lupakan Buruh Outsourcing (Part II)

Saya ingin melanjutkan postingan saya sebelumnya yang berjudul “Jangan Lupakan Buruh Outsourcing”.
Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita perhatikan isi dari UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang terdapat pada pasal 64, 65, dan 66 (file PDFnya bisa diunduh disini). Karena menurut saya, ketiga pasal inilah yang melahirkan outsourcing. “Terimakasih” kepada Ibu Mega selaku Presiden saat itu dan Menteri Tenagakerja Jacob Nuwa Wea beserta jajarannya yang telah merevisi dan mengesahkan UU tersebut.
Berikut bunyi salah satu ayat, yang menurut saya paling banyak disalahgunakan oleh baik pihak pemberi kerja maupun penyalur tenaga kerja.

Pasal 66 ayat 1
Pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi, kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.

Dalam lembar penjelasan disebutkan bahwa:
Pada pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan usaha pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi, pengusaha hanya diperbolehkan mempekerjakan pekerja/buruh dengan perjanjian kerja waktu tertentu dan/atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu.
Yang dimaksud kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha pokok (core business) suatu perusahaan.
Kegiatan tersebut antara lain: usaha pelayanan kebersihan (cleaning service), usaha penyediaan makanan bagi pekerja/buruh (catering), usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan), usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, serta usaha penyediaan angkutan pekerja/buruh.

Saya tertarik dengan penjelasan yang saya highlight dengan warna merah.
Kita lanjut.
Dari pasal 66 saja, saya bisa menilai bahwa sudah terjadi banyak pelanggaran yang dilakukan para pelaku usaha (pemberi kerja dan penyalur tenaga kerja).

Pelanggaran tersebut antara lain:

  • Perusahaan dalam hal ini pihak pemberi kerja tidak memberikan klasifikasi yang jelas antara kegiatan inti (pekerjaan pokok berhubungan langsung dengan proses produksi) dan kegiatan penunjang. Sehingga pada prakteknya banyak terjadi penyimpangan, dimana buruh OS justru dipekerjakan di bagian produksi dalam pabrik. Bahkan pada beberapa kasus, para karyawan (pegawai tetap) di sebuah perusahaan justru seakan menganggap remeh dan membebankan pekerjaan pada buruh OS. Yang apabila pekerjaan tidak sesuai target atau buruh plonga plongo (tidak tau apa yang mesti dikerjakan) ya buruh OS itulah yang kena damprat atasan  .
    Kenapa saya sok tau? Tentu saya bicara (baca: menulis ) bukan hanya dari buah imajinasi atau sekedar membaca dari berita. Saya pernah mengalami, lingkungan dan suami saya sendiri sampai sekarang masih menjadi buruh OS.
  • Minimnya perlindungan kerja
    Status buruh OS tidak jelas. Sewaktu-waktu bisa saja diberhentikan tanpa uang pesangaon. Tidak peduli berapa tahun masa kerja, karena buruh OS tidak terikat kerja langsung dengan pihak pemberi kerja (perusahaan) melainkan dengan pihak penyalur tenaga kerja (kebanyakan berbentuk CV).
    Apabila perusahaan meniadakan pekerjaan (biasanya alasan tidak ada bahan utnuk proses produksi), otomatis buruh OS juga berhenti kerja di perusahaan bersangkutan. Dan apabila tidak ada pekerjaan, dan pihak penyalur tenaga kerja tidak memindahkan atau memberikan pekerjaan di perusahaan lain, maka buruh OS ini tidak bekerja sama sekali yang berarti tidak digaji (menganggur).
    Lebih parahnya lagi, apabila terjadi pelanggaran terhadap syarat ketentuan kerja dan hak-hak buruh OS, perusahaan tidak bertanggungjawab. Tanggungjawab sepenuhnya adalah antara buruh OS dengan pihak penyalur-nya masing-masing.
  • Pemotongan gaji yang tidak transparan oleh pihak penyalur tenaga kerja.
    Termasuk pemotongan Jamsostek yang terkesan ditutup-tutupi.
  • Tidak adanya THR. Kalaupun ada, THR yang diberikan terkesan ala kadarnya. Kalau tidak berupa bingkisan (biasanya biskuit blek-blekan beserta sirup) kadang ya uang sebesar 100ribu rupiah. Lumayan buat beli baju lebaran.

Pada hakekatnya, sebenarnya outsourcing (OS) adalah perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat. Outsourcing diharapkan bisa membantu mengurangi tingkat pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi adanya penyimpangan dan pelanggaran terhadap hak dan kewajiban tenaga kerja (buruh OS) diatas, tentu saja nasib buruh OS tak akan berubah. Ditambah lagi kurangnya pengawasan dari pemerintah.

Mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa BUMN ( suami saya pernah mengalami) dan bahkan sebuah Bank (yang ini saya tau dari teman) pun juga ikut “bermain” dengan tenaga outsourcing. Ini merupakan bukti bahwa pemerintah tidak sensitive dengan apa yang terjadi pada kaum buruh dan tenaga kerja di Indonesia.
Pemerintah yang mencla mencle ini pernah berkoar tidak akan membiarkan terjadinya pelanggaran terhadap tenaga kerja outsourcing. Namun yang terjadi mereka justru terkesan melegalkan dan membiarkan pelanggaran terjadi berlarut-larut.
Semoga saja pelanggaran terhadap sistem outsourcing ini segera diatasi (ditindak) agar tidak mengakar kuat dan membudaya. Supaya anak cucu kita kelak tidak hidup sebagai budak kaum kapitalis dan tidak perlu jauh-jauh mencari “uang besar” menjadi TKI.

Sungguh andai bisa saya jabarkan s(d)uka duka kaum buruh berdasar pengalaman kawan-kawan di lapangan, mungkin seperti kisah sinetron yang happy endingnya gak ketahuan kapan.
Tentu tidak semua perusahaan atau pengalaman kawan-kawan bakal sama. Kalaulah kita anggap itu nasib, maka nasib yang beruntung tidak lebih banyak dari yang tidak .
Saya memang buta tentang hukum terlebih hukum tenaga kerja di Indonesia. Tapi saya tahu bahwa pelanggaran terhadap buruh OS ini merupakan bentuk lain dari pelanggaran hak asasi manusia.

wenkobainWenkobain

One thought on “Jangan Lupakan Buruh Outsourcing (Part II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s