CHILDHOOD NEVER DIES

Aku masih inget, waktu kecil dulu pas sore hari kami suka maen ke taman dipersimpangan jalan Kartini-PangSud. Tamannya bagus. Ada air mancur kecil, miniatur pohon cemara, batu2 besar yang buat anak seumurku kelihatan unik dan dipagari besi dengan sambungan rantai yang biasa kami pakai main ayunan—meski agak maksa karena fungsinya memang bukan buat ayunan. Kalo sudah bosan kami melanjutkan wisata kecil kami ke toko ikan yang hanya dipisahkan satu rumah saja disebelahnya. Begitu sudah capek liat2 dan mengomentari ikan kami pun langsung balik ke kampung cerewet (kartini gang 2) lewat gang SD. Kami terus dan terus bermain sampai Maghrib dan pulang untuk makan. Sehabis Isya’ kami kembali berkumpul. Entah itu sekedar cerita2, main kuis2an, dakonan dan Ting-Tongan. Rasanya sehari tak pernah cukup untuk bermain. Itu dulu, waktu kami belum mengenal mengaji dan les2an.

Ketika sudah mulai ikut mengaji, selesai mengaji di sore hari kami paling suka menghabiskan masa menunggu magrib dengan main baksodoran atau kalo lagi musimnya ya main loncatan. Maklum, pas didepan masjid ada lapangan yang biasa untuk main bulu tangkis. Diluar lapangan itu masih ada lagi halaman luas tak berpaving yang biasa kami manfaatkan untuk maen bentengan, pate lele, ongsrotan sampe neker’an. Semua tumplek blek-anak laki2 dan perempuan. Semua saling mengenal dengan baik. Rasanya, jangkauan kami melebihi apa yang kami kira. Kami bisa bermain apa saja, dimana saja dan kapan saja asal kami bersama.

Pernah suatu hari aku bertiga temanku bersepeda. Terus mengayuh sampai ke PLTU Gresik. Pada masa itu, selain medan yang kami tempuh lumayan berliku—pake acara adu nyali sama sapi, PLTU juga berasa tempat yang asing dan jauh. Sekali kami pernah menemukan tempat itu, kamipun mulai rutin bersepeda kesana bahkan sampai daerah Indro. Daerah yang lebih jauh lagi.

Dulu, kami belum mengenal VCD apalagi DVD dan Home theater. Hanya video game layar biru yang dimiliki satu diantara kami yang suka kami “tonton”. Lebih dari itu, hiburan multi media kami tidak lebih dari kaset video dan pemutarnya yang juga hanya bisa kami lihat di rumah salah seorang teman yang bapaknya seorang juragan tahu. Itupun yang boleh masuk hanyalah orang2 terpilih saja. Bisa ikut menonton merupakan suatu mukjizat dan kebanggaan bagi kami. Seingetku film yang sempat aku tonton waktu itu film tentang Zombie.

Suatu malam, ada yang punya ide membuat layar tancap “indie”. Aku sebut begitu karena ide kereyatip (kreatif) itu adalah pertunjukan bayangan sedemikian rupa sehingga penonton seolah melihat objek bergerak hasil dari bayangan. Andaikan aku bisa menggambarkan lebih detil. Pokoknya it was really exciting and unforgettable. Tiap penonton ditarik 50,-. Harga yang cukup mahal untuk anak2 dimasa itu. Tapi yang kami dapatkan sebanding. Bukan karena layar tancap indie itu sangat bagus, melainkan perasaan berdebar penasaran khas anak kecil dan keriangan kami diatas reruntuhan bekas rumah di malam itu.

Masa kecil memang penuh dengan canda dan kejutan. Setidaknya buatku masa paling menyenangkan.

Nb: Kalo mengingat itu semua, rasanya gembira campur sedih. Sedih karena sekarang hampir tidak ada lagi generasi penerus pecinta permainan tradisional. Anak2 mulai individual. Suka yang serba digital. Duduk maen PS sampe pegal atau nonton sinetron gombal bin khayal.


7 thoughts on “CHILDHOOD NEVER DIES

  1. Buat bung Baldy, terminalnya sekarang sudah berpindah tempat di terminal Bunder bung. Terminala lama sekarang sudah jadi pertokoan termasuk MC.D
    Kapan kapan main ke Gresik. I’ll treat you well, ok

  2. Gw msh inget terminal gresik yg di persimpangan veteran. Kalau ada pasar malam pasti ramenya minta ampun dech. ada tong setan, dormulen, bombomcar dll. Sayang…….gw udah tinggal jauh dari gresik. maybe someday i will be back

  3. masa kecilku paling menyenangkan ketika berada di jambi sama nenek. disana udarana masih sejux sekali. kalau di tasik panas udarana sesak gax enak ;(

  4. saya pendatang di gresik, kurang lebih 1 taon, kesan saya gresik adem ayem loh… liat crota sodara jadi pengen keliling gresik, mau jadi guide saya????🙂

  5. iya aku s4 kaget bin sedih pas dulu denger pak mo meninggal. ya, semoga diterima olehNya. amiiiin. eh, kamu emang kampung endi? sak kampong karo imam jumadi ta? bener banget, kasihan generasi sekarang dicekoki gombalisasi media yang sesat. semoga aja kita kelak bisa jadi imam dan wakil imam yg baek bwt klwrga.amiiiin lagi

  6. Dadi pengen balik SD maneh, nek budhal sekolah lewat kampung cerewet ambu pindang goreng soale omahe rempet2. rindu masa2 damai dan tanpa beban, njajane nang pak ghondok. Iyo ih jamanku pas SD biyen arek2e kreatif. dolene nang telogo, nang pelabuhan semen mancing. Trus dulu kompetisi olahraga rame di Sekolahan spt voli. sepak takraw, dll (jadi inget mendiang Pak Mo semoga Allah merahmatinya). Sekarang gak tau deh?ada gak ya kompetisi spt itu buat anak SD. Kalo udah punya anak, better hindarkan mereka dari barang2 yang bikin anak jadi malas/ hilang kefitrahannya sbg anak2 kayak TV yang cuman nayangin zina/maksiat, musik2, ghibah (jaman sekarang makin banyak kanibal soalnya orang yang ngomongin orang lain bagaikan makan bangkai saudaranya). Kita2 yang udah dewasa dan berniat punya anak, coba pikirkan bagaimana masa depan anak2 kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s