JANGAN LUPAKAN BURUH OUTSOURCING

Kisah Lain Dibalik Polemik UMK Gresik 2011

Menyoroti polemik usulan UMK Gresik akhir akhir ini aku rasa semakin lucu saja. Bagaimana tidak, para buruh berharap usulan UMK itu bisa terlaksana sedangkan pihak perusahaan dibawah naungan Apindo justru menolak usulan itu dan bahkan mengancam akan memindahkan usahanya ke kota lain. Bukan itu saja, mereka (para pengusaha) juga mengancam akan memangkas jumlah karyawan alias akan terjadi PHK besar2an apabila usulan ini tercapai. Aku bilang tercapai karena kemarin para pengusaha itu sedang membahas tiga agenda untuk menjegal pelaksaan UMK. Nah, makanya, para buruh justru harus was was apabila usulan UMK itu gol karena bisa2 diantara mereka justru masuk dalam daftar merah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan tidak akan merasakan manisnya UMK 2011.

Sebenarnya yang ingin aku bahas kali ini bukanlah tiga kata kunci yang selama ini diperdebatkan (UMK, Apindo, dan buruh/karyawan) melainkan buruh ‘pinggiran’ produk eksploitasi dari perusahaan outsourcing/penyalur yang selama ini terlupakan. Buruh outsourcing ini hampir dipastikan tidak perlu berkhayal untuk bisa menikmati UMK 2011. Dapak’o menikmati, lha wong gaji aja selalu disunat CV atau perusahaan penyalur mereka. Ayo kita bahas lebih dalam…

Eksploitasi Buruh Outsourcing

Gresik sudah dikenal sebagai kota Industri dengan ribuan pabrik yang tersebar disana sini mulai dari pabrik kimia, kayu, tekstil, pengalengan ikan dll dsb. Berkat polemik UMK 2011, nama Gresik semakin ngetop di televisi. Padahal dibalik polemik itu sendiri, ada satu masalah yang dari dulu belum terselesaikan. Bahkan gonjang ganjing di era Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno yang koar koar hendak menghapuskan sistem outsourcingpun menguap begitu saja. Padahal jelas jelas sistem seperti ini sangat merugikan para buruh. Mari kita tengok isi undang undang tentang naker yang saya unduh dari situs http://pkbl.bumn.go.id

Undang-Undang RI Th 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 64

Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaanlainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruhyang dibuat secara tertulis.

Pasal diatas itulah yang membuat sistem outsourcing makin lama makin menyengsarakan kaum kecil. Karena aku besar dilingkungan kos-kosan (10 tahun) aku lumayan ngerti kehidupan kaum pekerja baik anak karyawan dan anak outsourcing hingga akhirnya berjodoh dengan anak outsourcing :-P . Anak karyawan dalam hal ini buruh asli perusahaan/pabrik tentunya mendapatkan gaji penuh dari perusahaan plus jaminan sosial, transportasi, makan, jaminan kecelakaan kerja, dan buat yang punya jabatan mendapatkan tunjangan hari tua, tunjangan jabatan, kesehatan dll. Sedangkan anak outsourcing, jangankan fasilitas bus antar jemput, gaji saja bisa bisa disunat oleh pihak CV atau perusahaan penyalur. Perusahaan yang dalam hal ini bertindak sebagai perusahaan tempat para buruh bekerja, sebenarnya sudah memberikan gaji yang sesuai untuk anak-anak outsourcing. Tapi mereka juga ikut menyuburkan praktek outsourcing di jaman sekarang ini yang buntutnya kesengsaraan kaum buruh. Sekarang mari kita prhatikan logika berikut (duh, berasa Mario Teguh :-P ):

Perusahaan tempat buruh bekerja katakanlah PT. 123, memberikan kewenangan pada perusahaan penyalur CV 123 untuk menyuplai tenaga kerja. Memang PT 123 tetap memberikan upah sesuai dengan ketetapan. Namun dalam hal ini, PT 123 mendapatkan banyak keuntungan. Seperti yang udah aku bahas di paragraf sebelumnya, PT 123 tidak perlu susah susah mikirin transportasi, jatah makan, kecelakaan kerja dll. Pun apabila terjadi pengurangan karyawan, maka PT 123 bisa seenaknya mengurangi dari tenaga outsourcing tanpa pusing memikirkan uang pesangon. Dan buruh outsourcing inipun jangan terlalu berharap bakal mendapat uang pesangon dari perusahaan penyalurnya. Nasyeb…

Sedangkan keuntungan yang didapat dari pihak penyalur adalah fee (aku gak ngerti istilah tepatnya) dari perusahaan dan komisi akal akalan hasil pemotongan gaji (apabila perusahaan itu nakal) dari para buruh dibawah naungannya. Ya Alloh, betapa berat beban pekerja seperti mereka. Mereka sampai bela-belain kerja lembur agar bisa mendapatkan gaji lebih agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari yang serba mahal ini. Tanpa jaminan masa depan dan sewaktu-waktu mereka bisa saja di PHK tanpa pesangon apa2.

Memang tidak semua perusahaan (PT) atau perusahaan penyalur melakukan hal ini. Aku juga mencatat masih banyak perusahaan dan penyalur di Gresik yang masih pada koridornya dan memiliki rasa prikemanusiaan. Tapi alangkah baiknya sistem/undang undang yang tidak berpihak pada rakyat kecil ini dihapuskan saja. Kasihan mereka, bekerja tanpa lelah dan harus tunduk pada semua perintah tanpa bisa membantah. Karna kalau berani membantah bisa-bisa dipecat. Jangan lupa, perusahaan penyalur ini tidak berbadan hukum. Mereka tidak wajib memberikan tunjangan ataupun pensiun. Bahkan ada satu perusahaan penyalur yang terang-terangan tidak memberikan THR dalam bentuk apapun itu pada karyawannya. Sama sekali tidak ada hubungan timbal balik diantara majikan dan buruhnya. Malahan gaji yang seharusnya sudah saatnya dibayarkanpun bisa molor hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Sakno…sakno… Orang orang seperti ini gak pernah mau tahu apakah uang gaji yang tidak seberapa itu akan digunakan untuk apa saja. Bisa saja buruh kecil yang menanti gajian itu sangat sangat membutuhkannya saat itu juga hanya untuk sekedar beli sego saduk’an dipertelon petro sebagai pengganjal lapar. Semoga orang orang seperti ini bisa dibukakan hatinya oleh Alloh.

Sebenarnya praktek eksploitasi semacam ini sudah terjadi bahkan jauh sejak masa penjajahan. Masih ingat kan sama pelajaran sejarah yang membahas tentang VOC yang seenak dengkulnya menindas kaum pribumi (chie…) dengan cara mempekerjakan rakyat dan mengupahnya dengan bayaran yang sangat kecil. Praktek-praktek semacam inilah yang dengan halus masih dijalankan di negeri yang konon katanya kaya dengan sumber daya alam dan lumbung padi tapi rakyatnya kelaparan disana sini.

Bagaimanapun juga, mungkin bukan hanya nasib kaum buruh yang semakin merana tapi juga para pekerja disektor lain. Lapangan kerja semakin menipis sementara jumlah pengangguran semakin membludak (udah basi!). Akhirnya dengan sikon seperti ini, mereka mau tidak mau terjerat oleh praktik outsourcing dengan prinsip yang penting gak nganggur. Apalagi dengan pasar bebas yang mulai diberlakukan, produk produk luar negeri semakin membanjiri pasar lokal dan menggusur hasil karya anak negeri (karena memang lebih murah sih) yang pada akhirnya berujung pada PHK. Yah, mari doakan saja semoga pemerintah, menteri dan pihak terkait bisa lebih arif dan bijak menyikapi permasalahan ini. Sehingga bisa diambil solusi terbaik yang menguntungkan ‘ketiga’ belah pihak atau kalo boleh ‘kedua’ belah pihak (bila outsourcing jadi dihapus ^^). Masak siy tiap May day harus selalu diwarnai dengan demo buruh. Sekali sekali mbok ya buruh itu hidup tenang gitu lho. Bukankah kita sudah ‘merdeka’? Iya ga sih…?! (gakyakin.co.id)

Kota Gresik Sudah Makin Sepuh

Gresik sebentar lagi

ultah yang ke-521 tahun Rek!

180px-locator_kabupaten_gresik.png

 Gresik udah semakin tua, sebentar lagi akan menginjak usianya yang ke-521 tahun. Biasanya kalo lagi ultah Gresik merayakannya dengan meriah. Mulai dari pagelaran musik, acara makan2 di alon2 sampe upacara bendera. Gak jarang kadang juga diadakan beberapa acara keagamaan yang biasa diselenggarakan warga kota seperti Istighosah, doa bersama dan pengajian.

Berbagai macam predikat disandang. Mulai dari gresik kota santri, kota industri sampe kota warung kopi. Di sektor industri, sudah gak terbilang lagi jumlah perusahaan atau pabrik yang dijalankan di Kota Sunan Giri dan Sunan Malik Ibrahim ini. Mulai dari Petrokimia, Semen Gresik, Smelting, Maspion, Mie Sedaap sampe pabrik2 pengolah kayu yang banyak bertebaran disana sini. Home industri sendiri juga gak keitung deh. Ada bisnis kopyah, tas, manik manik, kerajinan perak-tembag,jenang dsb dsb.

Banyaknya pendatang dan hobi cangkruk warganya juga menjanjikan bagi para pemilik warung makan dan warung kopi. Dibeberapa lokasi juga mulai bermunculan ruko. Aku saja sampe heran, kapan ruko ini dibangun ya, kok tiba2 sudah mentereng.Seperti yang bisa kita liat dikawasan Kartini dan Jagung.

Tingkat kepadatan pendudukpun membuat sejumlah pengembang membangun real estate dan perumahan. Dulu kalo kita hanya mengenal BP Wetan, BP Kulon, GKA, Pongangan dan Perum Randuagung, sekarang bisa jadi kalo bukan orang asli Gresik bakal bingung kalo mencari rumah sanak saudaranya. Berdirinya perumahan2 seperti Gresik Kota Baru(GKB), Griya Suci Permai, Pondok Permata Suci, Perumahan Bunder sampe Alam Bukit Raya menandakan tingkat kebutuhan penduduk Gresik akan rumah yang sangat tinggi. Rumah di-Gresik laris manis. Begitu pula geliat kost-kostan dan kini yang baru ada RUSUN. RUSUN terakhir yang aku tau adalah RUSUN dijalan Dokter Wahidin sama daerah Gulomantung. Ke-dua rusun ini mengikuti pembangunan rusun sebelumnya yang deket pasar Gresik sana di Jalan Usman Sadar. Tapi denger2 mesti punya KTP Kecamatan didaerah terkait dulu baru boleh nyewa. bupati Gresik di hari lingkungan hidup

Intinya gak perlu takut deh bakal menggelandang di Gresik. Cukup kontrak rumah atau sekedar ngekost bulanan, kita sudah mendapatkan tempat bermukim sesuai dengan kemampuan kita ^_^

Dalam suatu perjalanan diangkot, aku menguping pembicaraan dua kakek-kakek yang membicarakan kondisi jalanan kota Gresik. Beliau beliau kagum dengan sigapnya dinas tata kota atau yah pihak terkait –lah yang langsung cekatan merespon keluhan warga untuk mengaspal ulang jalan kalo sudah dirasa gronjalan atau lubang2. diarea pedesaan juga gak ketinggalan. Beberapa desa sudah bisa menikmati jalan mulus beraspal. Akses dari desa ke-kota pun lancar jaya.

Hanya satu yang aku rasa kurang di kota gresik. Kalo kita perhatikan, pariwisata sepertinya kurang dilirik. Padahal beberapa lokasi cukup menjanjikan kalo di fungsikan dengan baik. Giri Wana Tirta yang disebut2 sebagai wisata baru dikota gresikpun hanya bingar diawal2 saja. Entah karena miskinnya pilihan wahana sehingga membuat tempat rekreasi yg lebih dikenal dengan Telogo Ngipik ini malah menjadi tempat pacaran.

Sebenernya banyak lho aset yang bisa dikembangkan seperti Telogo Dowo yang berada di daerah suci atau pongangan. Aku juga dapet bocoran dari temen2 kalo ada pantai yang bagus banget. Pasirnya putih,eit-bukan pantai Dalegan lho ya. Aku lupa nama pantainya. Soriii…nanti aku cari infonya lagi.

gboy-daleganres.jpg
Sementara itu Pantai Dalegan yang berada di kecamatan Panceng juga bisa menjadi pilihan wisata. Meski terbilang jauh dari kota Gresik tapi murah meriahnya membuat pantai ini dari hari kehari makin rame saja. Tinggal pinter2nya pihak yang terkait untuk mengembangkan pantai ini baik dari segi keamanan sampe kenyamanan pengunjung. Karena sampai sejauh ini hanya warga setempat yang menjaganya. Kan lumayan, kalo dikembangkan bisa membuka lapangan kerja baru.

Yah…kita doain aja deh moga kota Gresik bisa berubah menjadi New York, eh jangan-lah ya…kalo kemajuannya sih boleh.he42656X.

Pesan buat pemerintah kota Gresik, tolong yang tegas dalam menertibkan kesemrawutan para PKL dikota Gresik. Terutama PKL di kawasan Pasar Inpres. Duh…bener-bener senggol bacok ma bok-bok penjual sayurnya. Belum lagi para Bapak tukang becak yang sembarangan parkir didepan trotoar. udah PKL, Becak pula. Jalanan tambah suwempit, pikiran tambah suwempek >_<
Ayo pak Satpol PP, jangan cuman ngobraki aja. Minimal sehari sekali-lah operasi. Biar gak sehari bersih besoknya kumat lagi. Biar wajah kota Gresik semakin sumringah gitu loh. Trus tolong tuh warung2 remang yang banyak didirikan dipinggir jalan. Tolong bilangin pengelolanya atau mbak-mbaknya kalo muter house musik jangan keras-keras n pakainnya yang agak sopan doooong. Ah, tapi kayaknya susah ya. Karena warganya sendiri juga cuek aja. Atau karena udah hopeless ya.

Demikian tulisan saya. Maap kalo ada yang gak nyambung. Maap juga kalo ada kata-kata yang menyakitkan. Anggap aja kritik membangun …^_^…

Wenkobain