Dua hari lalu aku n temen2 janjian nonton AAC ke delta hari senin. Yuuuk, paket hemat sangat membantu buat anak2 kuliahan palagi ngekos dengan bajet pas2an. Gak heran kalo prinsip ekonomi kami junjung tinggi2. Iklan AAC yg bolak balik nampang di TV bener2 bikin penasaran.
Ternyata begitu udah nonton…byarrrr! Sense novel yang udah berkali-kali dicetak itu seakan gak disajikan di versi filmnya. Beberapa kekurangan yang aku tangkap diantaranya adalah dari ceritanya sendiri. Kalo orang yang nonton belom sempat baca novel atau emang males baca, kemungkinan bakal bingung sama alur dan isi ceritanya. Alur yang loncat-loncat dan cerita yang hambar-gitu2 aja bikin filmnya keliatan monoton dan sibuk sendiri. Buat yang udah baca malah lebih terkejut lagi. Ceritanya terlalu terburu2, gak detil dan lebih mengumbar sisi kehidupan asmara para pemain utamanya. Bener2 mengecewakan.
Seperti aku bilang tadi alurnya loncat2 mengesankan ceritanya menjadi tergesa-gesa. Beberapa adegan seperti di bus, kemunculan Noura, penangkapan fahri dan sidang (termasuk dipenjara) sangat terburu-buru. Penonton seakan dipaksa untuk memahami berdasarkan novel. Trus bagaimana yang belom baca!??
Selain itu ide ceritanya seperti diotak atik sedemikian rupa. Mulai dari kehidupan 2 cinta dibawah satu atap sampe kematian Maria. Emangnya ada ya Maria ketabrak mobil (lebih2 tabrakannya seperti disengaja) dan Aisyah pake acara “minggat” segala gara2 cemburu ama Maria. Kok jadinya sinetron banget ya?
Dipotongnya beberapa adegan termasuk tokoh novelnya juga membuat film ini tampak praktis atau sengaja mengurangi biaya produksi. Yang paling lucu adalah dikuranginya temen2 satu sel fahri. Udah dikurangi, temen satu selnya malah lebih parah lagi. Penciptaan karakter baru.
Penggambaran tokoh yang asal2an ini juga terjadi pada para tokoh utamanya. Aisyah yang dinovel lekat dengan karakteristik seorang muslimah yang taat pada suami, lemah lembut dan almost perfect seperti dijatuhkan dengan karakter Aisyah di film yang rapuh, cemburuan dan maaf-langsung nyosor dimalam pertama. ABCD… dan beberapa peran pembantu lainnya yang seperti cuman sekedar numpang nampang.
Sayang sekali film yang diangkat dari sebuah novel super best seller, menjadi rapuh dan tidak menjiwai. Respon ini cuma sekedar buah pikiran saja tanpa maksud menjatuhkan. Syukur2 dianggap kritik membangun biar film Indonesia makin maju. Sisi positif dari hadirnya film ini lumayan mengurangi sakit mata karena keseringan disuguhin film horor.