Meriahnya Ulang Tahun Gresik ke-525

Untuk kesekian kalinya Kabupaten Gresik merayakan hari jadi-nya dengan meriah. Setelah serangkaian acara yang berlangsung meriah di depan Pendopo (Alun-Alun Kota), kini giliran sebuah konser digelar demi merayakan ultah kota yang dikenal dengan berbagai julukan ini. Tidak tanggung-tanggung, konser yang berlangsung malam hari ini disiarkan langsung oleh stasiun JTV (termasuk saya yang sekali-kali mengganti channel TV untuk menyempatkan menonton konser ini – sambil nonton  MU VS Westbromwich Albion :p).

Konser yang digelar didepan Kantor Bupati Gresik yang bertajuk “Konser Wali di Kota Wali” memang sesuai dengan apa yang akan disuguhkan. Dari tag-line-nya kita mungkin bisa menebak siapakah yang diundang untuk memeriahkan rangkaian pesta ultah kota kecil di utara Surabaya ini. Yup, siapa lagi kalo bukan Wali Band. Band yang rata-rata personelnya lulusan pesantren dan alumni UIN Syarif Hidayatullah ini membawakan beberapa lagu yang salah satunya dibawakan secara duet dengan girlband Sunni.

Sayang, acara konser ini sempat diwarnai kericuhan penonton (pancet ae, ndessso). Beberapa penonton terlibat adu jotos sehingga polisi turun tangan untuk melerai dan menangkap salah satu penonton yang dianggap sebagai provokator. Setelah situasi kondusif, konserpun dilanjutkan.

Yah, semeriah apapun suatu perayaan (khususnya Ulang Tahun), tidak akan ada artinya tanpa adanya introspeksi dan self-improvement. Semoga Gresik menjadi kota yang mau bercermin dan melakukan perbaikan. Menjadi contoh dan tauladan bagi kota tetangga khususnya dalam sektor indutri. Viva Gresik \(^o^)
***
Doaku tahun ini untuk kota tercinta:
Moga GRESIK selalu BERHIAS IMAN

Untuk Bupati dan jajaran pemkab:
Moga selalu amanah dalam mengayomi masyarakat.
Dahulukan kepentingan rakyat dan terapkan kebijakan yang lebih berpihak pada pekerja/buruh.
Benahi kota dan tingkatkan sektor pariwisata non religi agar warga Gresik tak perlu jauh-jauh ke Malang atau Surabaya untuk refreshing.

*baca juga Kota Gresik Sudah Makin Sepuh

Wenkobain ^^v

JANGAN LUPAKAN BURUH OUTSOURCING

Kisah Lain Dibalik Polemik UMK Gresik 2011

Menyoroti polemik usulan UMK Gresik akhir akhir ini aku rasa semakin lucu saja. Bagaimana tidak, para buruh berharap usulan UMK itu bisa terlaksana sedangkan pihak perusahaan dibawah naungan Apindo justru menolak usulan itu dan bahkan mengancam akan memindahkan usahanya ke kota lain. Bukan itu saja, mereka (para pengusaha) juga mengancam akan memangkas jumlah karyawan alias akan terjadi PHK besar2an apabila usulan ini tercapai. Aku bilang tercapai karena kemarin para pengusaha itu sedang membahas tiga agenda untuk menjegal pelaksaan UMK. Nah, makanya, para buruh justru harus was was apabila usulan UMK itu gol karena bisa2 diantara mereka justru masuk dalam daftar merah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan tidak akan merasakan manisnya UMK 2011.

Sebenarnya yang ingin aku bahas kali ini bukanlah tiga kata kunci yang selama ini diperdebatkan (UMK, Apindo, dan buruh/karyawan) melainkan buruh ‘pinggiran’ produk eksploitasi dari perusahaan outsourcing/penyalur yang selama ini terlupakan. Buruh outsourcing ini hampir dipastikan tidak perlu berkhayal untuk bisa menikmati UMK 2011. Dapak’o menikmati, lha wong gaji aja selalu disunat CV atau perusahaan penyalur mereka. Ayo kita bahas lebih dalam…

Eksploitasi Buruh Outsourcing

Gresik sudah dikenal sebagai kota Industri dengan ribuan pabrik yang tersebar disana sini mulai dari pabrik kimia, kayu, tekstil, pengalengan ikan dll dsb. Berkat polemik UMK 2011, nama Gresik semakin ngetop di televisi. Padahal dibalik polemik itu sendiri, ada satu masalah yang dari dulu belum terselesaikan. Bahkan gonjang ganjing di era Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno yang koar koar hendak menghapuskan sistem outsourcingpun menguap begitu saja. Padahal jelas jelas sistem seperti ini sangat merugikan para buruh. Mari kita tengok isi undang undang tentang naker yang saya unduh dari situs http://pkbl.bumn.go.id

Undang-Undang RI Th 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 64

Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaanlainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruhyang dibuat secara tertulis.

Pasal diatas itulah yang membuat sistem outsourcing makin lama makin menyengsarakan kaum kecil. Karena aku besar dilingkungan kos-kosan (10 tahun) aku lumayan ngerti kehidupan kaum pekerja baik anak karyawan dan anak outsourcing hingga akhirnya berjodoh dengan anak outsourcing :-P . Anak karyawan dalam hal ini buruh asli perusahaan/pabrik tentunya mendapatkan gaji penuh dari perusahaan plus jaminan sosial, transportasi, makan, jaminan kecelakaan kerja, dan buat yang punya jabatan mendapatkan tunjangan hari tua, tunjangan jabatan, kesehatan dll. Sedangkan anak outsourcing, jangankan fasilitas bus antar jemput, gaji saja bisa bisa disunat oleh pihak CV atau perusahaan penyalur. Perusahaan yang dalam hal ini bertindak sebagai perusahaan tempat para buruh bekerja, sebenarnya sudah memberikan gaji yang sesuai untuk anak-anak outsourcing. Tapi mereka juga ikut menyuburkan praktek outsourcing di jaman sekarang ini yang buntutnya kesengsaraan kaum buruh. Sekarang mari kita prhatikan logika berikut (duh, berasa Mario Teguh :-P ):

Perusahaan tempat buruh bekerja katakanlah PT. 123, memberikan kewenangan pada perusahaan penyalur CV 123 untuk menyuplai tenaga kerja. Memang PT 123 tetap memberikan upah sesuai dengan ketetapan. Namun dalam hal ini, PT 123 mendapatkan banyak keuntungan. Seperti yang udah aku bahas di paragraf sebelumnya, PT 123 tidak perlu susah susah mikirin transportasi, jatah makan, kecelakaan kerja dll. Pun apabila terjadi pengurangan karyawan, maka PT 123 bisa seenaknya mengurangi dari tenaga outsourcing tanpa pusing memikirkan uang pesangon. Dan buruh outsourcing inipun jangan terlalu berharap bakal mendapat uang pesangon dari perusahaan penyalurnya. Nasyeb…

Sedangkan keuntungan yang didapat dari pihak penyalur adalah fee (aku gak ngerti istilah tepatnya) dari perusahaan dan komisi akal akalan hasil pemotongan gaji (apabila perusahaan itu nakal) dari para buruh dibawah naungannya. Ya Alloh, betapa berat beban pekerja seperti mereka. Mereka sampai bela-belain kerja lembur agar bisa mendapatkan gaji lebih agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari yang serba mahal ini. Tanpa jaminan masa depan dan sewaktu-waktu mereka bisa saja di PHK tanpa pesangon apa2.

Memang tidak semua perusahaan (PT) atau perusahaan penyalur melakukan hal ini. Aku juga mencatat masih banyak perusahaan dan penyalur di Gresik yang masih pada koridornya dan memiliki rasa prikemanusiaan. Tapi alangkah baiknya sistem/undang undang yang tidak berpihak pada rakyat kecil ini dihapuskan saja. Kasihan mereka, bekerja tanpa lelah dan harus tunduk pada semua perintah tanpa bisa membantah. Karna kalau berani membantah bisa-bisa dipecat. Jangan lupa, perusahaan penyalur ini tidak berbadan hukum. Mereka tidak wajib memberikan tunjangan ataupun pensiun. Bahkan ada satu perusahaan penyalur yang terang-terangan tidak memberikan THR dalam bentuk apapun itu pada karyawannya. Sama sekali tidak ada hubungan timbal balik diantara majikan dan buruhnya. Malahan gaji yang seharusnya sudah saatnya dibayarkanpun bisa molor hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Sakno…sakno… Orang orang seperti ini gak pernah mau tahu apakah uang gaji yang tidak seberapa itu akan digunakan untuk apa saja. Bisa saja buruh kecil yang menanti gajian itu sangat sangat membutuhkannya saat itu juga hanya untuk sekedar beli sego saduk’an dipertelon petro sebagai pengganjal lapar. Semoga orang orang seperti ini bisa dibukakan hatinya oleh Alloh.

Sebenarnya praktek eksploitasi semacam ini sudah terjadi bahkan jauh sejak masa penjajahan. Masih ingat kan sama pelajaran sejarah yang membahas tentang VOC yang seenak dengkulnya menindas kaum pribumi (chie…) dengan cara mempekerjakan rakyat dan mengupahnya dengan bayaran yang sangat kecil. Praktek-praktek semacam inilah yang dengan halus masih dijalankan di negeri yang konon katanya kaya dengan sumber daya alam dan lumbung padi tapi rakyatnya kelaparan disana sini.

Bagaimanapun juga, mungkin bukan hanya nasib kaum buruh yang semakin merana tapi juga para pekerja disektor lain. Lapangan kerja semakin menipis sementara jumlah pengangguran semakin membludak (udah basi!). Akhirnya dengan sikon seperti ini, mereka mau tidak mau terjerat oleh praktik outsourcing dengan prinsip yang penting gak nganggur. Apalagi dengan pasar bebas yang mulai diberlakukan, produk produk luar negeri semakin membanjiri pasar lokal dan menggusur hasil karya anak negeri (karena memang lebih murah sih) yang pada akhirnya berujung pada PHK. Yah, mari doakan saja semoga pemerintah, menteri dan pihak terkait bisa lebih arif dan bijak menyikapi permasalahan ini. Sehingga bisa diambil solusi terbaik yang menguntungkan ‘ketiga’ belah pihak atau kalo boleh ‘kedua’ belah pihak (bila outsourcing jadi dihapus ^^). Masak siy tiap May day harus selalu diwarnai dengan demo buruh. Sekali sekali mbok ya buruh itu hidup tenang gitu lho. Bukankah kita sudah ‘merdeka’? Iya ga sih…?! (gakyakin.co.id)

Kisruh UMK Gresik 2011

Gresik, 23 November 2010

Buruh di Gresik sepertinya masih harus menunggu keputusan atau pengesahan usulan UMK Gresik 2011 oleh Gubernur Jatim, Pak Karwo. Padahal Dewan Pengupahan Gresik telah mengajukan 3x usulan dan 2x telah ditolak. untuk yang terakhir ini usulan UMK yang disodorkan sebesar 1.133.000 dan Bupati Gresik, Sambari, bersikeras untuk usulan UMK yang ke-tiga ini diterima. Beliau (Sambari) beralasan bahwa UMK Gresik saat ini berdasarkan kebutuhan hidup layak sebesar Rp 1.149.260. Sedangkan Gubernur sendiri menyatakan bahwa usulan UMK Gresik bermasalah dan terlalu tinggi karena melampaui usulan UMK Surabaya yang sebesar 1.115.000.

Sementara itu Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) DPC Gresik mengancam akan nglurug kantor Gubernur apabila usulan yang ketiga kalinya ini kembali dimentahkan. Jamaluddin, selaku Koordinator Aliansi Buruh Menggugat (ABM) menyatakan akan mengerahkan ribuan buruh untuk berdemo.

Berikut adalah daftar usulan UMK seJatim yang masih menunggu pengesahan Gubernur

1. KOTA PASURUAN : Rp.926.000
2. KAB JEMBER : RP.875.000
3. KOTA MADIUN : 745.000
4. KAB NGAWI : 725.000
5. KAB PONOROGO : 705.000
6. KAB TRENGGALEK : 710.000
7. KAB TULUNGAGUNG : 720.000
8. KAB PROBOLINGGO : 810.000
9. KAB NGANJUK : 710.000
10 KAB LUMAJANG : 740.000
11.KAB BOJONEGORO : 870.000
12.KAB SITUBONDO : 733.000
13.KAB BANYUWANGI : 865.000
14.KAB MADIUN : 720.000
15.KAB BONDOWOSO : 735.000
16.KAB KEDIRI : 975.000
17.KAB JOMBANG : 866.000
18.KAB BLITAR : 737.000
19 KAB SUMENEP : 785.000
20.KAB PAMEKASAN : 925.000
21.KAB MAGETAN : 705.000
22.KAB PROBOLINGGO :814.000
23.KAB SAMPANG : 725.000
24.KAB BLITAR : 750.000
25.KAB BANGKALAN : 850.000
26.KAB MOJOKERTO : 835.000
27.KAB TUBAN : 935.000
28.KAB KEDIRI : 934.000
29.KAB LAMONGAN :900.000
30.KAB SURABAYA : 1.115.000
31.KAB GRESIK BELUM
32.KAB MOJOKERTO : 1.105.000
33.KOTA MALANG : 1.079.000
34.KAB SIDOARJO : 1.107.000
35.KAB PASURUAN : .1.107.000
36.KAB MALANG : 1.077.600
37.KOTA BATU : 1.050.000.

Berdasarkan data diatas, apabila usulan UMK Gresik disahkan, maka Gresik akan menjadi kabupaten dengan UMK tertinggi seJawa Timur dengan UMK 1.133.000 dan kabupaten Ponorogo sebagai kabupaten dengan UMK terendah sebesar 705.000

Yah, semoga saja usulan UMK Gresik bisa gol dan tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena para pengusaha yang dibawah naungan APINDO masih menolak usulan UMK tersebut yang dianggap terlalu tinggi. Mereka mengancam akan memindahkan usahanya ke kabupaten Lamongan.

(Dihimpun dari berbagai sumber : Kompas, Beritajatim, TVOne, MetroTV dan Jawa Pos)

CHILDHOOD NEVER DIES

Aku masih inget, waktu kecil dulu pas sore hari kami suka maen ke taman dipersimpangan jalan Kartini-PangSud. Tamannya bagus. Ada air mancur kecil, miniatur pohon cemara, batu2 besar yang buat anak seumurku kelihatan unik dan dipagari besi dengan sambungan rantai yang biasa kami pakai main ayunan—meski agak maksa karena fungsinya memang bukan buat ayunan. Kalo sudah bosan kami melanjutkan wisata kecil kami ke toko ikan yang hanya dipisahkan satu rumah saja disebelahnya. Begitu sudah capek liat2 dan mengomentari ikan kami pun langsung balik ke kampung cerewet (kartini gang 2) lewat gang SD. Kami terus dan terus bermain sampai Maghrib dan pulang untuk makan. Sehabis Isya’ kami kembali berkumpul. Entah itu sekedar cerita2, main kuis2an, dakonan dan Ting-Tongan. Rasanya sehari tak pernah cukup untuk bermain. Itu dulu, waktu kami belum mengenal mengaji dan les2an.

Ketika sudah mulai ikut mengaji, selesai mengaji di sore hari kami paling suka menghabiskan masa menunggu magrib dengan main baksodoran atau kalo lagi musimnya ya main loncatan. Maklum, pas didepan masjid ada lapangan yang biasa untuk main bulu tangkis. Diluar lapangan itu masih ada lagi halaman luas tak berpaving yang biasa kami manfaatkan untuk maen bentengan, pate lele, ongsrotan sampe neker’an. Semua tumplek blek-anak laki2 dan perempuan. Semua saling mengenal dengan baik. Rasanya, jangkauan kami melebihi apa yang kami kira. Kami bisa bermain apa saja, dimana saja dan kapan saja asal kami bersama.

Pernah suatu hari aku bertiga temanku bersepeda. Terus mengayuh sampai ke PLTU Gresik. Pada masa itu, selain medan yang kami tempuh lumayan berliku—pake acara adu nyali sama sapi, PLTU juga berasa tempat yang asing dan jauh. Sekali kami pernah menemukan tempat itu, kamipun mulai rutin bersepeda kesana bahkan sampai daerah Indro. Daerah yang lebih jauh lagi.

Dulu, kami belum mengenal VCD apalagi DVD dan Home theater. Hanya video game layar biru yang dimiliki satu diantara kami yang suka kami “tonton”. Lebih dari itu, hiburan multi media kami tidak lebih dari kaset video dan pemutarnya yang juga hanya bisa kami lihat di rumah salah seorang teman yang bapaknya seorang juragan tahu. Itupun yang boleh masuk hanyalah orang2 terpilih saja. Bisa ikut menonton merupakan suatu mukjizat dan kebanggaan bagi kami. Seingetku film yang sempat aku tonton waktu itu film tentang Zombie.

Suatu malam, ada yang punya ide membuat layar tancap “indie”. Aku sebut begitu karena ide kereyatip (kreatif) itu adalah pertunjukan bayangan sedemikian rupa sehingga penonton seolah melihat objek bergerak hasil dari bayangan. Andaikan aku bisa menggambarkan lebih detil. Pokoknya it was really exciting and unforgettable. Tiap penonton ditarik 50,-. Harga yang cukup mahal untuk anak2 dimasa itu. Tapi yang kami dapatkan sebanding. Bukan karena layar tancap indie itu sangat bagus, melainkan perasaan berdebar penasaran khas anak kecil dan keriangan kami diatas reruntuhan bekas rumah di malam itu.

Masa kecil memang penuh dengan canda dan kejutan. Setidaknya buatku masa paling menyenangkan.

 

 

 

Nb: Kalo mengingat itu semua, rasanya gembira campur sedih. Sedih karena sekarang hampir tidak ada lagi generasi penerus pecinta permainan tradisional. Anak2 mulai individual. Suka yang serba digital. Duduk maen PS sampe pegal atau nonton sinetron gombal bin khayal.