Kun Fayakun

Alhamdulillaah, kemaren bisa nonton felem ini juga. pesan yang disampaikan ya bisa dicerna dengan baik. cuman aku n temenku langsung saling bertatapan dengan mata bego pas adegan Desi ratnasari ketemu sama mantan pacar di rumah sakit. emang jiwa sinetron susah banget dibumihanguskan ya.

Terlepas dari kesinetronan tadi aku cukup salut sama Ustad Yusuf Mansyur. yah, media dakwah kan bisa lewat apa saja. biar lewat felem sekalipun. yang penting niatnya. felem genre semacam ini kayaknya mulai banyak kita jumpai. boeh kok, biar para horror indonesia mania pada tobat.

Biar kualitas felemnya standar, tapi bolehlah…hayooo, masih ada yg mau nonton Tali Pocong Perawan ketimbang Kun Fayakun nih?

CHILDHOOD NEVER DIES

Aku masih inget, waktu kecil dulu pas sore hari kami suka maen ke taman dipersimpangan jalan Kartini-PangSud. Tamannya bagus. Ada air mancur kecil, miniatur pohon cemara, batu2 besar yang buat anak seumurku kelihatan unik dan dipagari besi dengan sambungan rantai yang biasa kami pakai main ayunan—meski agak maksa karena fungsinya memang bukan buat ayunan. Kalo sudah bosan kami melanjutkan wisata kecil kami ke toko ikan yang hanya dipisahkan satu rumah saja disebelahnya. Begitu sudah capek liat2 dan mengomentari ikan kami pun langsung balik ke kampung cerewet (kartini gang 2) lewat gang SD. Kami terus dan terus bermain sampai Maghrib dan pulang untuk makan. Sehabis Isya’ kami kembali berkumpul. Entah itu sekedar cerita2, main kuis2an, dakonan dan Ting-Tongan. Rasanya sehari tak pernah cukup untuk bermain. Itu dulu, waktu kami belum mengenal mengaji dan les2an.

Ketika sudah mulai ikut mengaji, selesai mengaji di sore hari kami paling suka menghabiskan masa menunggu magrib dengan main baksodoran atau kalo lagi musimnya ya main loncatan. Maklum, pas didepan masjid ada lapangan yang biasa untuk main bulu tangkis. Diluar lapangan itu masih ada lagi halaman luas tak berpaving yang biasa kami manfaatkan untuk maen bentengan, pate lele, ongsrotan sampe neker’an. Semua tumplek blek-anak laki2 dan perempuan. Semua saling mengenal dengan baik. Rasanya, jangkauan kami melebihi apa yang kami kira. Kami bisa bermain apa saja, dimana saja dan kapan saja asal kami bersama.

Pernah suatu hari aku bertiga temanku bersepeda. Terus mengayuh sampai ke PLTU Gresik. Pada masa itu, selain medan yang kami tempuh lumayan berliku—pake acara adu nyali sama sapi, PLTU juga berasa tempat yang asing dan jauh. Sekali kami pernah menemukan tempat itu, kamipun mulai rutin bersepeda kesana bahkan sampai daerah Indro. Daerah yang lebih jauh lagi.

Dulu, kami belum mengenal VCD apalagi DVD dan Home theater. Hanya video game layar biru yang dimiliki satu diantara kami yang suka kami “tonton”. Lebih dari itu, hiburan multi media kami tidak lebih dari kaset video dan pemutarnya yang juga hanya bisa kami lihat di rumah salah seorang teman yang bapaknya seorang juragan tahu. Itupun yang boleh masuk hanyalah orang2 terpilih saja. Bisa ikut menonton merupakan suatu mukjizat dan kebanggaan bagi kami. Seingetku film yang sempat aku tonton waktu itu film tentang Zombie.

Suatu malam, ada yang punya ide membuat layar tancap “indie”. Aku sebut begitu karena ide kereyatip (kreatif) itu adalah pertunjukan bayangan sedemikian rupa sehingga penonton seolah melihat objek bergerak hasil dari bayangan. Andaikan aku bisa menggambarkan lebih detil. Pokoknya it was really exciting and unforgettable. Tiap penonton ditarik 50,-. Harga yang cukup mahal untuk anak2 dimasa itu. Tapi yang kami dapatkan sebanding. Bukan karena layar tancap indie itu sangat bagus, melainkan perasaan berdebar penasaran khas anak kecil dan keriangan kami diatas reruntuhan bekas rumah di malam itu.

Masa kecil memang penuh dengan canda dan kejutan. Setidaknya buatku masa paling menyenangkan.

 

 

 

Nb: Kalo mengingat itu semua, rasanya gembira campur sedih. Sedih karena sekarang hampir tidak ada lagi generasi penerus pecinta permainan tradisional. Anak2 mulai individual. Suka yang serba digital. Duduk maen PS sampe pegal atau nonton sinetron gombal bin khayal.