Kota Gresik Sudah Makin Sepuh

Gresik sebentar lagi

ultah yang ke-521 tahun Rek!

180px-locator_kabupaten_gresik.png

 Gresik udah semakin tua, sebentar lagi akan menginjak usianya yang ke-521 tahun. Biasanya kalo lagi ultah Gresik merayakannya dengan meriah. Mulai dari pagelaran musik, acara makan2 di alon2 sampe upacara bendera. Gak jarang kadang juga diadakan beberapa acara keagamaan yang biasa diselenggarakan warga kota seperti Istighosah, doa bersama dan pengajian.

Berbagai macam predikat disandang. Mulai dari gresik kota santri, kota industri sampe kota warung kopi. Di sektor industri, sudah gak terbilang lagi jumlah perusahaan atau pabrik yang dijalankan di Kota Sunan Giri dan Sunan Malik Ibrahim ini. Mulai dari Petrokimia, Semen Gresik, Smelting, Maspion, Mie Sedaap sampe pabrik2 pengolah kayu yang banyak bertebaran disana sini. Home industri sendiri juga gak keitung deh. Ada bisnis kopyah, tas, manik manik, kerajinan perak-tembag,jenang dsb dsb.

Banyaknya pendatang dan hobi cangkruk warganya juga menjanjikan bagi para pemilik warung makan dan warung kopi. Dibeberapa lokasi juga mulai bermunculan ruko. Aku saja sampe heran, kapan ruko ini dibangun ya, kok tiba2 sudah mentereng.Seperti yang bisa kita liat dikawasan Kartini dan Jagung.

Tingkat kepadatan pendudukpun membuat sejumlah pengembang membangun real estate dan perumahan. Dulu kalo kita hanya mengenal BP Wetan, BP Kulon, GKA, Pongangan dan Perum Randuagung, sekarang bisa jadi kalo bukan orang asli Gresik bakal bingung kalo mencari rumah sanak saudaranya. Berdirinya perumahan2 seperti Gresik Kota Baru(GKB), Griya Suci Permai, Pondok Permata Suci, Perumahan Bunder sampe Alam Bukit Raya menandakan tingkat kebutuhan penduduk Gresik akan rumah yang sangat tinggi. Rumah di-Gresik laris manis. Begitu pula geliat kost-kostan dan kini yang baru ada RUSUN. RUSUN terakhir yang aku tau adalah RUSUN dijalan Dokter Wahidin sama daerah Gulomantung. Ke-dua rusun ini mengikuti pembangunan rusun sebelumnya yang deket pasar Gresik sana di Jalan Usman Sadar. Tapi denger2 mesti punya KTP Kecamatan didaerah terkait dulu baru boleh nyewa. bupati Gresik di hari lingkungan hidup

Intinya gak perlu takut deh bakal menggelandang di Gresik. Cukup kontrak rumah atau sekedar ngekost bulanan, kita sudah mendapatkan tempat bermukim sesuai dengan kemampuan kita ^_^

Dalam suatu perjalanan diangkot, aku menguping pembicaraan dua kakek-kakek yang membicarakan kondisi jalanan kota Gresik. Beliau beliau kagum dengan sigapnya dinas tata kota atau yah pihak terkait –lah yang langsung cekatan merespon keluhan warga untuk mengaspal ulang jalan kalo sudah dirasa gronjalan atau lubang2. diarea pedesaan juga gak ketinggalan. Beberapa desa sudah bisa menikmati jalan mulus beraspal. Akses dari desa ke-kota pun lancar jaya.

Hanya satu yang aku rasa kurang di kota gresik. Kalo kita perhatikan, pariwisata sepertinya kurang dilirik. Padahal beberapa lokasi cukup menjanjikan kalo di fungsikan dengan baik. Giri Wana Tirta yang disebut2 sebagai wisata baru dikota gresikpun hanya bingar diawal2 saja. Entah karena miskinnya pilihan wahana sehingga membuat tempat rekreasi yg lebih dikenal dengan Telogo Ngipik ini malah menjadi tempat pacaran.

Sebenernya banyak lho aset yang bisa dikembangkan seperti Telogo Dowo yang berada di daerah suci atau pongangan. Aku juga dapet bocoran dari temen2 kalo ada pantai yang bagus banget. Pasirnya putih,eit-bukan pantai Dalegan lho ya. Aku lupa nama pantainya. Soriii…nanti aku cari infonya lagi.

gboy-daleganres.jpg
Sementara itu Pantai Dalegan yang berada di kecamatan Panceng juga bisa menjadi pilihan wisata. Meski terbilang jauh dari kota Gresik tapi murah meriahnya membuat pantai ini dari hari kehari makin rame saja. Tinggal pinter2nya pihak yang terkait untuk mengembangkan pantai ini baik dari segi keamanan sampe kenyamanan pengunjung. Karena sampai sejauh ini hanya warga setempat yang menjaganya. Kan lumayan, kalo dikembangkan bisa membuka lapangan kerja baru.

Yah…kita doain aja deh moga kota Gresik bisa berubah menjadi New York, eh jangan-lah ya…kalo kemajuannya sih boleh.he42656X.

Pesan buat pemerintah kota Gresik, tolong yang tegas dalam menertibkan kesemrawutan para PKL dikota Gresik. Terutama PKL di kawasan Pasar Inpres. Duh…bener-bener senggol bacok ma bok-bok penjual sayurnya. Belum lagi para Bapak tukang becak yang sembarangan parkir didepan trotoar. udah PKL, Becak pula. Jalanan tambah suwempit, pikiran tambah suwempek >_<
Ayo pak Satpol PP, jangan cuman ngobraki aja. Minimal sehari sekali-lah operasi. Biar gak sehari bersih besoknya kumat lagi. Biar wajah kota Gresik semakin sumringah gitu loh. Trus tolong tuh warung2 remang yang banyak didirikan dipinggir jalan. Tolong bilangin pengelolanya atau mbak-mbaknya kalo muter house musik jangan keras-keras n pakainnya yang agak sopan doooong. Ah, tapi kayaknya susah ya. Karena warganya sendiri juga cuek aja. Atau karena udah hopeless ya.

Demikian tulisan saya. Maap kalo ada yang gak nyambung. Maap juga kalo ada kata-kata yang menyakitkan. Anggap aja kritik membangun …^_^…

Wenkobain

Introspeksi: Blog War Indonesia VS Malaysia (bagian 2)

Belajar dari I Hate Indon


Gak usah gusar ama orang yg menamakan dirinya I Hate Indon, pun gak perlu bales ngata2in pake seluruh isi kebun binatang dll deh. Justru I hate Indon banyak memberikan kritikan yg membangun dan membakar-weits bukan membakar emosi lho yah-sekali lagi membakar jiwa nasionalisme kita untuk lebih aware sama negara tercinta yg makin hari makin terpuruk aja.

Dibawah ada postingan dari I Hate Indon yg kalo dipikir2 banyak benernya ketimbang mlesetnya. Dibaca satu-satu dengan hati-hati…

Ten Things I Hate About Indonesia

New Year is approaching. Let us take a quick recap on our environment: what is good and what is bad; and hope that things will change only for the better after the holidays. Therefore I present you with the ten things I hate and love about Indonesia and Hungary. I will start from “Ten Things I Hate About Indonesia” first…
1. Corruption
How can you not hate it when the former president is still holding the world’s record for being the biggest corruptor ever with US$ 35 billion? The worst is that he’s still out there—free to watch his favorite show “Who Wants to be a Millionaire” and suddenly has to be treated in hospital every time he hears attempt of bringing his case to the court. However his half brother will be spending the next four years in jail for another corruption case; while his youngest son, Tommy Suharto, was put behind the bars in 2000 for murdering a judge. What a big happy family!
2. Poverty
What can you expect after your president had stolen US$ 35 billion? What else but poverty:
More than half of Indonesia’s 210 million people are vulnerable to poverty. In 2002, the World Bank estimated 53% of the population – some 111 million – live below the international standard poverty line of US$ 2 a day.
Poverty is not just a matter of inadequate incomes and expenditures on food and daily necessities. Many of the poor and near poor also lack access to basic education, medical services and adequate nutrition. Some 25 million Indonesians are illiterate. Nearly 50 million suffer health problems, a similar number lack access to health facilities. Many communities have inadequate or non-existent basic infrastructure like safe water, adequate sanitation, transport, roads and electricity.
3. Natural disaster
And that was not enough. The country has been plagued with the tsunami last year and the earthquakes which sometimes still happens nowadays. They are so common that media no longer pay any attention to them. Nevertheless the effects are still there. Flood, volcanic eruption, and landslide remain constant threats.
4. Diseases
SARS, malnutrition, bird flu, dengue fever, anthrax, …I have lost counts.
5. Social gap
It happens anywhere else, so why should it be special, I hear you ask. Whenever I watch Travel Channel’s report on Thailand, for example, most likely it would show the beauty of Bangkok city, the clubs, the leisure. Or in India, you would only see the beautiful women, the exotic dancers, or delicious chicken curry. But in Indonesia you would see poor fishermen hunting whale in order to live—not to earn money, mind you, but simply to live. You would see primitive tribes cook their meal in a poor fireplace inside their huts. And I kept asking myself why didn’t they simply show Tamara Blezynski who earns US$ 4,000 for each episode on her soap opera? Because there are more of these people, that is why. Poverty has been a problem since the beginning of civilization. Yet it is sad to see that nowadays some are still living in that age while their countrymen can afford a life that they could never imagine.

6. School
Schools are never for free in Indonesia; especially now with the capitalization era coming. I heard now there is a special regulation which allows state-owned universities to receive students without any tests—the students with high grades in senior high, mind you. However they have to pay between US$ 500 to 7,500; not a small amount in Indonesia. I wonder whose money they would use. Only as a comparison, I learned in a state-owned university in Surabaya, had to compete with thousands of competitors in the entrance test; and paid only around US$ 30 in the end after passing the examinations.
7. Resource monopoly
Although the amount is decreasing, monopoly still exists. There is only a company which can provide you with fixed phone, for an instance. I have no problem with it; had it been able to reach everyone. But it hasn’t. My parents built a house in 2000, in an area where most people have had their telephone. As soon as the house was ready, they registered themselves for a fixed phone. And even now they haven’t gotten it for the same reason: there are not enough people in that area who request it. As the consequence, they have no internet. That sucks! They have the money, and they want to spend it on the damn fixed phone to chat with their daughter who is living abroad—but they can’t.
Electricity is even worse. There is only one company in the whole country; so everyone must buy the electricity from it. Yet it has been operating at a loss.
8. City bus
City bus is definitely a nightmare. In Surabaya, there are 111 buses which have been operating for 11-15 years; 170 buses for 16-20 years; and 112 buses for more than 20 years. To give you more views, it is not forbidden to smoke inside; there is no air conditioner; and there is no clear limit on how many passengers can be. At times you have to stand with somebody else’s arm pit only a few cm away from your precious nose; meanwhile you should give way to the street singers who get on and off the bus to earn a living.
9. Low self esteem
Indonesians are mostly fed up with the frequent stagnation of their life that they think everything comes from abroad must be better: grass is always greener on the other side, true enough. But in Indonesia, it has come to the point where people start to lose their identity. For example, a friend of mine worked as a teacher in an international school among with expatriates from Europe. They all had the same occupation: teacher. While she received US$ 180 despite, her European colleagues got at least US$ 2,000—and nobody would ever say anything about it. Because they are European—expatriates; they deserve more! She did quit after some time; yet many would be more than willing to replace her for that amount.
There are many superficial matters, such as the women who are willing to spend extra cash (and risk some cancer also) to get whiter skin in order to look like the Indonesian beauties; the likes of Tamara Blezynski or Sophia Latjuba. But many more are misleading. People with low education believe that living abroad—no matter how bad—is still better than staying in the country. Thousands of them—mainly women risk to work abroad; as maids. Some receive their money—I read that in Singapore they are paid around US$ 200, that is huge compared to their wage in Indonesia. But it is not rare also that they went home, broke and distressed after having to deal with bureucracy and trafficking and physical harassment and heaven knows what else.
10. Law for mixed marriage
Despite all the grim facts about the fair country, Zsolt and I would still like to move there. Yet an Indonesian wife cannot sponsor her foreign husband to get a resident visa there: only the company which would hire him could. Afterwards, the resident visa is only valid for a year and it must be renewed in the origin country. Each month, a foreigner must pay US$100 tax.
That was not all. Children cannot have Indonesian citizenship until they reach 18, with the father’s permission. Therefore they would be treated as tourist in their mother’s land along with the taxation system which is way too expensive for native Indonesian. A rumor said that there may be new rule that a foreign man must pay US$ 50,000 in order to be able to marry an Indonesian woman. That sucks!
Dec 26, 2004  – Nearly 132,000 Indonesians are killed and more than 37,000 listed as missing after a 9.15 magnitude earthquake off Indonesia and a tsunami triggered by it in the Indian ocean region. The toll in affected Indian Ocean countries reaches 230,000 dead.
Feb 21, 2005 – At least 96 are killed in landslide that sweeps through two West Java villages near a garbage dump.
March 28, 2005 – Nearly 1,000 are believed killed after a quake of magnitude 8.7 hits the coast of Sumatra.
July 20, 2005 – Indonesia confirms first deaths from bird flu. To date the disease has killed 63 people in Indonesia, the world’s highest bird flu death toll.
Sept 1, 2005 – Landslide on island of Sumatra kills 14 and leaves more than a dozen missing.
Sept 5, 2005 – Domestic airliner operated by local carrier Mandala Airlines crashes in residential area of Indonesia’s third biggest city Medan, killing 102 aboard and 47 local residents in an inferno on the ground.
May 15, 2006 – Mount Merapi volcano erupts with clouds of hot gas and rains ash on surrounding areas.
May 27, 2006 – Earthquake rocks area around ancient royal city of Yogyakarta killing at least 5,000 and destroying or damaging 150,000 homes.
July 17, 2006 – A tsunami after a 7.7 magnitude quake in West Java province kills at least 550 people. At least 54,000 people are displaced.
Dec 30, 2006 – A ferry with at least 600 aboard sinks during a stormy night voyage as it traveled between Borneo and Java.
Jan 1, 2007 – An Adam Air passenger plane flying from Surabaya to Manado with 102 people aboard crashes into the sea off the west coast of Sulawesi.
Feb 22, 2007 – At least 42 people are killed when fire breaks out aboard a ferry which was heading from Jakarta to Bangka Island off Sumatra.
March 6, 2007 – Two strong earthquakes kill at least 31 people and injure dozens in the West Sumatra provincial capital of Padang.
March 7, 2007 – Domestic Airliner operated by Garuda Indonesia crashes in Yogyakarta, killing many of its passengers.

Indon… indon… kenapa citra mu jelek amat…
Posted by I Hate Indon

Waduh, pinternya … Aku mesti beberapa kali buka kamus di web dictionarynya UGM. Tapi, kalopun dia emg orang malaysia seperti yg banyak orang pikir, berarti hebat …dia update terus perkembangan Indonesia! Sebagian bahkan aku baru tahu. Kalo dia sebegitu addictnya ama Indonesia kenapa dia pake nama I Hate Indon ya?

Tapi biar gimana juga salut deh. Makasih udah kasih kritik membangun yg spesial.

Buat sobat2 blogger seMana2, siapapun I Hate Indon kayaknya kita gak perlu membenci sampai seperti itu deh.  Menurutku akan lebih arif kalu kita jadiin wacana dan introspeksi. Terutama buat pemerintahan kita yang semakin amburadul. Jadi sedih kalo inget kita yang sesama Indonesia aja masih suka adu jotos baik di jalanan, di tempat kerja atau bahkan di ruang sidang.

Mari jo beking torang pe negara lebe bae, jangan lupa …

Torang Samua Basudara  ^_*

Introspeksi: Blog War Indonesia VS Malaysia (bagian 1)

wenkobain

 

KONFLIK YG TIADA AKHIR, haruskah?

 

Dari dulu kita selalu saja berantem ma Malaysia. Mulai dari PBB sampe urusan budaya. Akhir taon kemarin kita (Indonesia) pada ribut ama orang yg menyebut dirinya di blog bernama I hate indon. Saat itu pula kita ngerespon dgn ngata2in Malingsia-lah, pencuri budaya-lah, sampe ke negara gak kreatif. Awalnya aku juga wah…gak jauh deh sama cacian tadi. Emang sih, rasa nasionalisme sempet panas begitu baca artikel2 yg dimuat diblog I hate indon itu, tapi coba deh, dari pada kita capek2 musuhan sama orang gak jelas, yg bisa aja orang gila yg bebas bersyarat dari RSJ entah itu dr Malaysia atau bahkan dari Indonesia sendiri. Kita gak tau! Tapi yg pasti kita seharusnya bisa belajar banyak dari kejadian ini.

 

ASET DAN BUDAYA KITA UNTUK SIAPA?

 

Dimana2 kita denger dan yah…harus diakuin beberapa ada yg bener (aku pernah buka situs all about malaysia) Malaysia mengklaim begitu banyak budaya dan produk asli kita. Contohnya batik, angklung, ambalat, sabang, sampe taon kemarin reog ponorogo, dsb dsb. Pertanyaanya, kenapa kita (artinya juga aku sendiri) cuek aja ketika angklung udah mulai jarang terdengar, ketika batik sudah jarang yg ngelirik karena kita lebih suka ama harajuku dan model mamamia. Bahkan pemerintah kita sendiri kayak kurang peduli ketika pulau kita dikeruk sampe rusak dan tanahnya dikirim ke Singapore. Paling2 kita bakal koar2 begitu beritanya udah marak diTV dan Internet. Jangan ngerasa kesindir atau sakit hati kalo kita bahkan lebih pantas yg disebut tidak punya identitas karena kita lebih tertarik sama budaya barat. Atau kita lebih doyan liat aksi panggung Agnes Monica, sinetron horor-dangdut yg gak jelas, sinetron nama cewek atau bahkan reality show seputar percintaan remaja dsb dsb ketimbang nonton nglenong nyok, extravaganza (sadar ato gak, banyak unsur budaya yg diangkat lho-mulai dari stage, costume ampe bahasa yg dipake. jd gak cuman ketawa doang) and acara2 petualangan yg banyak ngangkat kehidupan kedaerahan yg sarat budaya. Bisa nambah pengetahuan plus plus tuh.

Nah, kayaknya sudah waktunya kita lebih mencintai budaya sendiri. Jangan begitu ada yang beraksi trus kita mudah terprovokasi asal demokrasi tanpa memberikan kontribusi buat negara kita yang penuh sensasi ..si…si…BASI!!

 

Aku punya cerita. Didaerahku sini (gka-gresik) atau mungkin didaerah lain-baik pagi, siang ataupun malam banyak pelaku usaha wira wiri. Mulai dari penjual sayur, roti goreng, sapu, ranjang kayu, bakso sampe ibu2 muda yg bergerombol mengemis. Tapi yang paling miris ketika tiba2 aku dikejutkan ama suara gamelan. Siang hari pula! ABCD .. tolong deh…aku kirain ada tetangga yg muter gamelan atau emang ada kawinan. Ternyata pas aku liat dari jendela 2 orang laki2 dengan penampilan khas penari remo sedang melenggang. Salah satunya bawa speaker n satunya lagi kebagian jatah nari remo atau tari apalah. Hatiku sakit banget. Sakit saking sedihnya. Ya kalo spikernya segede radio kompo its OK, lha wong ini spiker segede koper sebesar dos isi monitor 21”. Pernah suatu hari hujan lumayan deras, dan kedua pak itu masih siap beraksi begitu ada pintu yang terbuka atau telat ditutup…

Sudah sesulit itukah para bapak2 itu mencari makan buat keluarganya. kenapa sulit sekali hanya memberikan 200-500 rupiah saja buat orang2 yg boleh dibilnag sedang melestarikan budaya itu, meski mereka terpaksa sekalipun.

header-remo1.jpg

 

 

Pemadaman listrik se-Jawa Bali

dikutip dari Tempointeraktif

Pemadaman Listrik Mulai Diterapkan di Bali
Kamis, 21 Pebruari 2008 | 08:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Menyusul terjaidnya defisit listrik pada kelistrikan sistem Jawa dan Bali hingga 1.500 MW, pemadaman bergilir mulai diterapkan di Bali. Masyarakat dan kalangan perhotelan juga diminta untuk melakukan penghematan listrik.

Pemadaman Listrik Mulai Diterapkan di Bali
Denpasar, Menyusul terjaidnya defisit listrik pada kelistrikan sistem Jawa dan Bali hingga 1.500 MW, pemadaman bergilir mulai diterapkan di Bali. Masyarakat dan kalangan perhotelan juga diminta untuk melakukan penghematan listrik.

Menurut Humas PLN Bali Wayan Redika, pasokan listrik ke Bali berkuran 50-60 MW akibat defisit itu. Pengurangan beban kemudian dikompensasikan dengan pemadaman pada 3 sistim jaringan di Bali dengan komposisi wilayah Bali Selatan mencapai 50 persen.

Wilayah Bali Timur dan Bali Utara masing-masing sebesar 25 persen. ”Itu dilakukan secara sporadis di tiap gardu listrik masing-masing sekitar 1,5 jam,” sebutnya, Kamis (21/2).

Adapun penghematan bisa dilakukan masyarakat dengan mematikan lampu 50 watt di masing-masing pelangan R1 dan 100 watt pada pelanggan dengan daya 1.300 watt. Pihak hotel juga diminta menggunakan genset terutama pada saat beban puncak sekitar 2 jam/perhari.

Kalangan perhotelan sendiri tidak berkeberatan dengan himbauan PLN itu. Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus, kepemilikan generator sudah menjadi prasyarat khusus.

”Bagi kami listik bukan hanya beban produksi tapi juga menjadi bagian dari esetetika untuk kepuasan tamu,” jelasnya. Namun dengan adanya kejadian ini, dia berharap PLB dapat mengkaji ulang pola layanannya dengan mempertimbangkan berbagai keadaan.

Rofiqi hasan

wenk’s note:

ya…moga aja orang2 di jawa timur khususnya di-Gresik bs pada berhemat. moga juga gresik gak dapet jatah pemadaman listrik. gimana sektor industri bs jalan kalo mesin gak bisa dipake. buat pabrik yg punya genset sih g masyalah. trus kita dirumah-dikantor-diwarnet(he34586X)jg jd g bs ngapa2in. jadi berasa jadul.